Postingan

Menampilkan postingan dari 2017

Kok sangat mudah teringat tentangmu?

Saya baru saja baca beberapa halaman dari buku berjudul " Stories for Rainy Days " karya Naela Ali, dan saya sudah jatuh cinta. Naela menceritakan hal-hal yang selama ini saya rasakan, Naela menceritakan hal-hal yang mungkin saya katakan dulu saat jatuh cinta ke kamu. Jadi, Naela mengingatkan saya pada kamu. Bagaimana ia mencintai seseorang yang dari awal memang ia sudah tau, ia tidak punya kesempatan untuk bersama. Ia sudah tau akhirnya akan seperti apa. Sama bukan seperti kita? Kita sudah tau akan kemana ujungnya tapi masih berusaha memaksa melanjutkan. Harusnya sejak awal saja saya menjauh, tapi saya juga memaksakan cinta saya. Saya jatuh karena usahamu, semudah itu kamu buat saya jatuh cinta.  Jika saya bercerita ke orang lain tentang perasaan campur aduk saya ke kamu, saya takut orang akan berpikir kamu hanya pemanis cerita SMA saya, tidak lebih. Padahal kamu  highlight  utama cerita SMA saya, dan beberapa bulan bahkan tahun setelahnya, kamu masih pemeran ut...

Untuk diriku sekian tahun yang akan datang

Hai diriku sekian tahun yang akan datang, ku ketik post ini sebagai reminder untukmu,  agar tetap teringat apa yang kamu inginkan di usia belasan,  sebagai penanda kamu sudah tumbuh, entah tumbuh dewasa atau hanya bertambah tua Ku harap saat itu kamu akan jadi seorang wanita yang dapat berdiri untuk dirimu, menyelesaikan pendidikanmu dengan baik, bekerja sesuai dengan apa yang kamu inginkan, dan menikah dengan laki-laki yang tepat. Jika kamu belum lulus, jangan lupakan cita-citamu sejak awal. Belajarlah sebanyak-banyaknya, carilah penagalaman sejauh-jauhnya, manfaatkan fasilitas yang ada, berteman lah dengan banyak orang, dan dekatlah dengan orang-orang baik yang akan menuntunmu ke arah yang lebih baik. Jika kamu sudah menyelesaikan pendidikanmu, carilah pekerjaan yang sesuai dengan dirimu, yang sesuai dengan prinsip hidupmu, jangan dengarkan orang yang menjatuhkanmu, dan dengarkan orang yang mengkritik dirimu. Jadikan kritikan sebagai acuan untuk jadi lebih ...

Berharap itu boleh, tapi harus selaras dengan realita bukan?

Salah saya yang terburu-buru mendeklarasikan saya benci kamu. Padahal ini bukan sepenuhnya salahmu, lebih besar salah saya. Saya rasa selama hidup saya belasan tahun ini, saya tidak pernah benar-benar membenci seseorang. Saya mungkin sering merasa kesal dan tidak menyukai seseorang, tapi saya tidak pernah bicara "Saya benci dia". Saya pun bingung kenapa bisa secepat itu saya bicara saya benci kamu. Tidak, saya tidak benci kamu. Saya tahu ini makan waktu terlalu lama untuk sadar. Masa iya butuh waktu selama ini hanya untuk sadar saya tidak benci kamu, aneh. Padahal hampir delapan puluh persen kekesalan saya disebabkan saya sendiri. Kamu hanya menyumbang dua puluh persen. Lalu semena-mena saya bilang saya benci kamu, aneh. Sepertinya penyebabnya adalah saya terlalu berekpektasi tinggi terhadapmu. Saya lupa realitanya, saya tidak boleh berharap setinggi itu. Saya seakan ayam yang punya sayap, tapi lupa sayap saya tidak bisa dipakai untuk terbang, atau saya selama ini hanya b...